Penerapan Bisnis Digital di Kampus

 

 Oleh Jennifer Alexandra & Gunawan Wang

Digital Bisnis telah memperkenalkan peluang baru bagi organisasi kecil atau besar untuk bersaing di pasar global, tidak terkecuali dalam dunia Pendidikan. Kemajuan teknologi informasi telah menjangkau sampai ke dunia pendidikan. Sebelumnya, Mahasiswa harus pergi ke kampus terlebih dahulu untuk mendapatkan ilmu baru. Di era digital ini, proses belajar-mengajar online telah menjadi fenomena. Dari sisi bisnis, ini adalah peluang bagus. Binus University merupakan salah satu lembaga pendidikan yang terus menerus berusaha untuk melakukan inovasi yang dapat memberikan nilai unggul serta meningkatkan kualitas, salah satunya dengan menerapkan Digital Bisnis didalamnya. Salah satu faktor yang dapat menunjang pengajaran adalah dengan menggunakan Learning Management System (LMS). LMS (Learning Management System) atau e-learning platform adalah sebuah software yang mencakup berbagai layanan yang dapat membantu pengajar dalam mengelola bahan pengajaran mereka (Ouadoud et al., 2018). Kumpulan dari beberapa fitur yang tersedia pada LMS menunjukkan layanan-layanan tersebut dapat membantu dalam pengelolaan proses pengajaran dan interaksi antar pengguna. Saat ini, Binus University sudah melakukan penerapan Digital Bisnis dengan membangun platform yang dapat menunjang proses pengajaran secara Online, yaitu Binusmaya (Website dan Mobile). Sebuah LMS (Binusmaya) yang dikembangkan khusus oleh IT Binus untuk mendukung spesifik studi melalui Multi Channel Learning (MCL) yang nantinya dapat di akses melalui website dan di download oleh Mahasiswa melalui PlayStore/AppsStore (khusus Binusmaya Mobile). Mahasiswa dapat belajar di waktu mereka sendiri dan tidak bergantung pada waktu tatap muka dengan dosen mereka. Dosen dapat melakukan sharing materi melalui Binusmaya dan Mahasiswa juga dapat mengakses seluruh jajaran sumber daya yang tersedia untuk mereka secara online. Seiring dengan berjalannya waktu, mungkin akan terjadi beberapa perubahan pada paradigma pendidikan. Perubahan pertama adalah paradigma proses pendidikan yang berorientasi pada pengajaran dimana pengajar lebih menjadi pusat informasi, bergeser pada proses pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran dimana Mahasiswa menjadi sumber. Dengan banyaknya sumber belajar alternatif yang bisa menggantikan fungsi dan peran pengajar, maka peran pengajar akan berubah menjadi fasilitator. Kedua, paradigma proses pendidikan tradisional yang kebanyakan berorientasi pada pendekatan klasikal (tatap muka) di dalam kelas, mungkin bisa bergeser ke model pembelajaran yang lebih fleksibel, yaitu pendidikan dengan sistem online (seperti yang sekarang sudah dilakukan akibat pandemi COVID). Saya berharap untuk kedepannya, perubahan paradigma ini dapat membuat Pengajar dan Mahasiswa lebih unggul dalam hal pemanfaatan penggunaan teknologi dan membuat sistem belajar-mengajar kedepannya menjadi lebih efektif dan efisien (baik dari sisi pengajar, maupun Mahasiswa)